IBX5841290004FB3
BREAKING NEWS
Search

Beasiswa Di Bawah Telapak Kaki Ibu

Fahd Pahdepie


Mungkin ini akan terdengar klise: Jika Anda ingin lulus beasiswa, mintalah doa ibu. Tapi, izinkan hari ini saya memberikan sebuah bukti.

***

Hari ini saya ingin bercerita tentang ibu saya. Saya memanggilnya ‘Ii’, karena sewaktu kecil saya gagal memanggilnya ‘Ibu’ dan hanya mengulang huruf vokal pertamanya dua kali: I-i.

Tahun 1985, setelah dipersunting Ayah di usianya yang baru 19 tahun, Ii pindah ke Bandung dari tanah kelahirannya, Cianjur. Waktu itu ia baru saja lulus dari pesantren yang menyembunyikannya dari hiruk-pikuk dunia selama bertahun-tahun, membuat pengalamannya tentang dunia luar dengan segala kerlap-kerlipnya begitu terbatas.

Bandung mungkin adalah kota besar pertama yang dilihatnya waktu itu. Ayah sering bercerita betapa Ii selalu terpesona setiap kali diajak berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kata Ayah, mata Ii selalu berbinar setiap kali melihat lampu-lampu jalan dan pertokoan yang terang-benderang. Sayangnya, Ii hanya bisa pergi ke tempat-tempat itu seminggu sekali, sebab ia tak pernah bisa dan berani pergi sendiri! Ya, Ii harus selalu menunggu Ayah libur agar ia bisa pergi berjalan-jalan melihat kota.

Mungkin saja Anda menduga bahwa ibu saya sangat tertutup atau begitu menjaga diri. Tetapi, sebenarnya bukan itu alasannya. Ibu saya tak bisa menyeberang!

***

Suatu hari ibu saya pernah mencoba keluar sendirian. Konon ia ingin membeli sesuatu di pasar Ujungberung, sekitar 10 menit menggunakan angkot dari tempat tinggal kami di Cilengkrang. Di pinggir jalan, Ii menyetop angkot dengan tangan gemetar. Setelah sebuah angkot berhenti, ia menaikinya dengan membaca ‘basmallah’ dan doa safar. Di atas angkot, bibirnya tak berhenti berdoa dan keringat bercucuran dari dahinya. Kata Ii, itu 10 menit terlama dalam hidupnya. Ia takut diculik!

Sesampainya di pasar Ujungberung, tentu saja Ii harus menyeberang. Tapi seperti sudah diduga, ia tak berani melakukannya. Ii berdiri mematung menghitung mobil-mobil yang lewat di hadapannya. Ia berusaha mengkalkulasi seberapa cepat langkah kakinya, jumlah langkah yang harus ia ambil untuk sampai di tepian jalan lainnya, dan rasio kemungkinan sebuah kendaraan yang melaju dengan kecepatan yang barangkali tak bisa ia perhitungkan. Hasilnya, Ii berdiri mematung dan tak menyeberang selama hampir 15 menit! Sebelum akhirnya seorang pejalan kaki menolongnya untuk menyeberang jalan.

***

Itulah ibu saya. Seorang perempuan desa yang lugu—yang bahkan ketika pertama kali mendengar makanan bernama martabak telur, yang ia bayangkan adalah martabak manis yang diberi telur di bagian atasnya (bagaimana rasanya, ya?).

Namun, Ii adalah seorang pemimpi yang hebat. Di antara kami sekeluarga, imajinasi Ii selalu yang paling tak terduga. Ii tak pernah takut untuk bercita-cita. 
Saya ingat setiap kali ia melihat gambar Ka’bah di sajadah di rumah kami, Ii akan mengatakan, “Suatu hari kita sekeluarga akan bertamu ke baitullah bersama-sama.” Atau saat saya begitu malas untuk sekolah dan mengerjakan PR, Ii-lah yang selalu mengatakan, “Tahun ini kamu akan rangking satu lagi.” Atau saat Ayah menggerutu tentang payahnya birokrasi kampus tempatnya mengajar, Ii akan bilang, “Jangan lupa Ayah akan jadi professor!”

Suatu hari di tahun 1998, saya dan Ii menonton sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Waktu itu ada sebuah adegan ketika Si Doel bertanya kepada Ibunya Sarah tentang keberadaan kakak Sarah. Si ibu dengan ringan menjawabnya, sambil menunjuk ke sebuah foto, “Oh, si sulung sedang sekolah di Belanda,” Jawabnya.

Seolah terinspirasi oleh adegan itu, ibu saya menoleh ke arah saya, lalu mengatakan sesuatu yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya, “Nanti mah Ii yang akan bilang, ‘Oh, si sulung sedang sekolah di Belanda’.” Saya masih ingat senyum Ii saat mengatakan kalimat itu sambil menatap mata saya. Saya ingat matanya yang penuh impian dan doa-doa.

Maka sejak hari itu, saya bercita-cita untuk bisa bersekolah di Belanda, untuk mewujudkan impian dan menjawab doa-doa Ii.

***

Barangkali sebab tak ada yang lebih ampuh dari doa Ibu, atas izin Allah, tahun 2013 saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Belanda! Ibu senang sekali ketika mendengarnya. Tapi, di waktu yang sama saya juga lulus beasiswa ke Australia.

Saya berada di dua pilihan yang sulit ketika itu, antara Belanda dan Australia. Di satu sisi, saya ingin ke Belanda karena itu impian Ibu, tetapi saat itu kondisi perekonomian Eropa sedang tak begitu baik—membuat dana beasiswa yang akan saya terima tak begitu besar. Di sisi lain, Australia menawarkan beasiswa yang lebih besar dan universitas yang saya tuju memiliki program yang sangat cocok dengan pilihan studi saya.

Ragu-ragu, saya bertanya pada Ii, “Gimana kalau saya lanjut sekolahnya ke Melbourne aja, I? Nggak ke Belanda?”

Ii terdiam beberapa saat. Kemudian menatap saya dan berkata, “Nggak apa-apa atuh… Nanti kalau ada yang nanya kamu ke mana, Ii akan bilang, ‘Yang paling besar mah sedang kuliah di Melbourne!’,” katanya sambil tersenyum, “Sama-sama gaya kayak di Belanda!” Tambahnya.

Setelah itu saya memantapkan pilihan untuk melanjutkan sekolah ke Monash University di Melbourne, Australia. Atas izin dan restu ibu, semuanya berjalan lancar nyaris tanpa hambatan.

***

Hari ini, saya baru saja menyelesaikan studi saya dan merampungkan semua kewajiban saya sebagai penerima Australia Awards. Di antara berbagai kebahagiaan dan rasa syukur, bayangan Ii lah yang paling kuat muncul ke permukaan pikiran dan perasaan. Betapa saya tak mungkin sampai di momen ini jika Ii tak pernah menyalakan nyali saya untuk bermimpi. Betapa saya tak mungkin meraih semua ini tanpa doa-doa yang dipanjatkan olehnya.

Ibu saya mungkin hanya gadis kampung yang lugu. Pendidikan formalnya mungkin tak tinggi. Tetapi, bagi saya, ia adalah bintang yang paling terang di hati saya, cahaya paling kemilau yang selalu saya tatap dengan mata penuh cinta di langit perasaan saya yang paling tinggi.

Jika ada yang perlu diberi selamat untuk penghargaan yang saya terima hari ini, barangkali orang itu adalah Ii. Semua ini saya persembahkan untuk Ii.

Melbourne, 29 Juni 2015


*Judul ‘Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu’ terinspirasi dari buku Karya Irfan Amalee, terbitan Mizania, 2013.



Yunarko

Semangat Pemuda Untuk Berbagi dan Menginspirasi.

  • email
  • linkedin
  • rss
  • pin
  • youtube
  • instagram
  • twitter
  • facebook
  • google+

0 thoughts on “Beasiswa Di Bawah Telapak Kaki Ibu